NADIKABAR.COM — Tidak ada gunungan dalam Garebeg Mulud Be 1960/2026 di Keraton Jogja. Meski demikian, sedekah raja kepada kawula tetap hadir dalam bentuk yang lebih sederhana.
Dilansir laman resmi Pemda DIY, rengginang menjadi ubarampe yang dibagikan kepada para abdi dalem pada Garebeg Mulud Be 1960/2026. Pembagian ubarampe tersebut dipusatkan di Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti Keraton Yogyakarta hari ini.
Rengginang itu dibagikan oleh GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, GKR Bendara, KPH Purbodiningrat, dan RM Drasthya Wironegoro.
Wakil Penghageng II Kawedanan Sri Wandawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Sindurejo, mengatakan perubahan bentuk Garebeg bukan hal baru dalam perjalanan tradisi Keraton. Dari masa ke masa, upacara tersebut menyesuaikan dengan situasi dan zaman.
"Mulai dari era Sultan terdahulu yang menghadirkan Garebeg sebagai upacara terbesar lengkap dengan kehadiran Sultan dan regalianya, kemudian sempat mengalami penyederhanaan pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono X juga ada perubahan bentuk upacara Garebeg ketika pandemi Covid-19 melanda," kata KRT Sindurejo, Rabu (26/8/2026), dikutip detikJogja dari jogjaprov.go.id.
"Ini menunjukkan bahwa rangkaian upacara budaya dapat berubah sesuai masanya, situasi dan kondisinya, asalkan esensinya tetap sama," sambungnya.
Diketahui, Garebeg Mulud Be 1960/2026 digelar sederhana sesuai dhawuh Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang juga menjadi pedoman pada pelaksanaan Garebeg Besar Dal 1959. Rangkaian yang biasanya mengawali Garebeg, seperti Gladhi Resik Prajurit dan Numplak Wajik, juga ditiadakan.
Salah seorang abdi dalem senior berpangkat Bupati Nayaka di Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara, mengatakan dhawuh untuk menyederhanakan prosesi Garebeg masih berlaku hingga tahun ini.
"Dhawuh Dalem terkait penyelenggaraan Garebeg masih sama. Kami menerima dhawuh untuk menyederhanakan prosesi Garebeg, dimulai dari Garebeg Besar kemarin sampai sekarang Mulud juga masih dengan konsep pembagian ubarampe pareden," jelasnya.
Meski demikian, suasana bulan Mulud tetap dihidupkan melalui rangkaian Hajad Dalem Sekaten. Sebelumnya, dua perangkat Gamelan Sekati, Kiai Guntur Madu dan Kiai Nagawilaga, menjalani prosesi Miyos Gangsa, ditabuh bergantian di Pagongan Masjid Gedhe, lalu dikembalikan ke Keraton pada Selasa (25/8) malam.
Rangkaian Sekaten juga memberi ruang bagi masyarakat untuk menyaksikan tabuhan Gamelan Sekati, penyebaran udhik-udhik, serta menikmati sajian dan kerajinan khas Sekaten. Di Bangsal Srimanganti, rengginang kemudian dibagikan kepada para abdi dalem.