NADIKABAR.COM — Gerakan Generasi Milenial Indonesia (GGMI) Batam menilai penguatan ekonomi biru dan pengembangan lumbung ikan nasional dapat mendukung ketahanan pangan nasional sejalan dengan tujuan Asta Cita pemerintah.

Ketua GGMI Batam M Ghoji Alghifari Lubis mengatakan pengembangan sektor kelautan dan perikanan dapat memperkuat ekonomi kerakyatan, membuka peluang usaha, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Ia mengajak generasi milenial untuk turut berperan aktif mendukung agenda tersebut.

"Generasi milenial harus berperan aktif dalam mendukung program pembangunan pemerintahan melalui gagasan, inovasi, kewirausahaan, dan partisipasi masyarakat," kata Ghoji dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu.

Menurut Ghoji, momentum dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk berkontribusi terhadap pembangunan nasional, khususnya melalui pemanfaatan potensi kelautan dan perikanan.

Ia mengampaikan hal tersebut dalam diskusi publik bertajuk "Menatap Masa Depan Ekonomi Biru & Lumbung Ikan Nasional dalam Asta Cita" di Batam, Rabu, diikuti sekitar 60 peserta.

Ia menjelaskan kontribusi tersebut dapat diwujudkan melalui pengembangan usaha berbasis potensi lokal, inovasi pengolahan hasil laut, serta partisipasi dalam mengawal pelaksanaan program pemerintah secara konstruktif.

"Keberhasilan pembangunan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat, termasuk generasi milenial yang memiliki potensi besar dalam pengembangan inovasi dan kewirausahaan," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, pengamat dari Universitas Batam Fendi Hidayat menilai Kepulauan Riau memiliki peluang strategis dalam pengembangan ekonomi biru melalui perikanan tangkap, budi daya laut, industri pengolahan, serta perdagangan dan konektivitas maritim.

Menurut dia, pengelolaan potensi tersebut secara terarah dapat memperkuat perekonomian daerah sekaligus meningkatkan kontribusi sektor perikanan terhadap ketahanan pangan nasional.

"Pengembangan ekonomi biru dan Lumbung Ikan Nasional membutuhkan sinergi antara pemerintah, akademisi, organisasi kepemudaan, pelaku usaha, nelayan, koperasi, serta masyarakat pesisir," kata Fendi.

Ia menjelaskan pengembangan Lumbung Ikan Nasional membutuhkan sistem perikanan terintegrasi, mulai dari produksi dan pendaratan ikan hingga penyimpanan, pengolahan, serta distribusi ke berbagai wilayah.

Ketersediaan pelabuhan perikanan, fasilitas penyimpanan berpendingin (cold storage), dan jaringan distribusi antarpulau dinilai penting untuk menjaga kualitas hasil tangkapan sekaligus meningkatkan daya saing produk perikanan.

Dengan dukungan infrastruktur dan industri pengolahan, hasil laut diharapkan tidak hanya dijual sebagai komoditas mentah, tetapi juga dikembangkan menjadi produk bernilai tambah yang membuka lapangan kerja dan peluang usaha.

Sebagai gambaran potensi daerah, Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Riau pada November 2025 menyebut produksi ikan di provinsi tersebut rata-rata mencapai sekitar 339 ribu ton per tahun, ditambah 39 ribu ton dari sektor budi daya.

Sementara itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat produksi perikanan nasional mencapai 19,89 juta ton hingga triwulan III 2026, sedangkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sektor perikanan mencapai 6,86 persen pada triwulan II 2026.

Dalam penguatan ekonomi pesisir, Dinas Perikanan Batam pada September 2026 juga melaporkan lima lokasi Kampung Nelayan Merah Putih telah memperoleh persetujuan KKP untuk pembangunan pada tahun ini.

Fendi menilai pengembangan infrastruktur dan pengolahan hasil perikanan dapat memberikan manfaat ekonomi lebih luas bagi nelayan, pelaku usaha, serta masyarakat pesisir.

"Bagi Kepulauan Riau, penguatan sektor ini berpotensi meningkatkan pendapatan nelayan, memperluas kesempatan usaha bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta memperkuat kontribusi daerah terhadap ketahanan pangan nasional," ujarnya.

Ia menambahkan pengembangan ekonomi biru perlu memperhatikan kelestarian ekosistem laut agar manfaat ekonomi dari pemanfaatan sumber daya perikanan dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Diskusi yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat kontribusi generasi muda dalam mendukung Asta Cita melalui inovasi, kewirausahaan, dan pengembangan ekonomi lokal.

Melalui kegiatan tersebut, GGMI Batam berharap pengembangan ekonomi biru dan lumbung Ikan nasional dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan serta memperkuat ketahanan pangan menuju Indonesia Emas 2045.