NADIKABAR.COM — Ketua Umum DPP Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), KH Nanang Mubarok menegaskan pesantren dan masjid adalah kawah candradimuka peradaban umat yang wajib disterilkan dari segala bentuk kekerasan dan penyimpangan fitrah.

"Santri adalah aset terbesar peradaban bangsa. Hari Santri ini harus menjadi ikhtiar kolektif kita untuk memastikan lingkungan pesantren benar-benar aman, bersih, dan beradab," katanya dalam keterangan di Jakarta, Kamis.

Nanang menekankan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 harus menjadi momentum pemurnian dan peneguhan kembali pesantren sebagai episentrum akhlak, benteng adab, dan penjaga fitrah generasi.

Di tengah dinamika zaman dan keterbukaan arus informasi digital, lanjut dia, lembaga pendidikan Islam dan pondok pesantren harus memperkuat kewaspadaan internal terhadap ancaman terselubung perundungan (bullying), kekerasan fisik, serta orientasi perilaku seksual menyimpang.

Nanang menyoroti adanya persepsi keliru bahwa santri laki-laki mandiri dan mampu menjaga diri sering kali menciptakan area buta (blind spot) pengawasan di kamar tidur dan sanitasi, sementara budaya kepatuhan dan kesetiakawanan semu kerap membungkam suara korban.

"Tidak boleh ada ruang kompromi maupun sikap menutup mata terhadap bibit perundungan, kekerasan, apalagi perilaku seksual menyimpang di asrama. Menjaga santri berarti menjaga kesucian fitrah umat dan masa depan kepemimpinan Indonesia," ujar Nanang Mubarok.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum PP Salimah yang juga Pegiat Gerakan Indonesia Berfitrah (GIF) Reni Anggrayni menggarisbawahi urgensi mitigasi sistemik dan pengikisan budaya penyangkalan (anti-denial) dalam tata kelola lingkungan asrama.

"Langkah pertama penyelamatan generasi adalah keberanian mengakui realitas dan menghentikan sikap penyangkalan. Data menunjukkan bahwa bahaya nyata kerap mengintai di balik celah minimnya pengawasan tata ruang dan relasi senioritas yang tak terkontrol," ucap dia.

Maka dari itu, Reni menegaskan pihaknya bersama aliansi ormas dan pemerhati pendidikan mendorong standardisasi tata ruang fisik asrama, seperti pengaturan jarak ranjang minimal 60 cm, peniadaan area buta tanpa pengawasan CCTV, SOP sanitasi aman, serta pembekalan modul deteksi dini bagi pembimbing dan guru asrama.

GIF bersama BKPRMI dan PP Salimah menyerukan aksi nyata kepada seluruh pimpinan pondok pesantren, para ustadz, komite sekolah, dan wali santri di seluruh tanah air untuk bergerak serentak melindungi masa depan generasi.

"Pesantren dan orang tua harus bergandengan tangan membangun sistem mitigasi yang konkret, mulai dari audit tata ruang fisik kamar santri, penyaringan rekam jejak mental pembina, hingga membangun kanal pengaduan yang aman bagi santri. Santri tangguh adalah mereka yang berani bersuara melindungi batasan tubuh dan kehormatan temannya, bukan yang memilih bungkam membiarkan pelanggaran adab," tutur Reni Anggrayni.

Sebelumnya, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa santri harus memiliki semangat juang yang tinggi dan tidak boleh merasa kecil serta membatasi diri yang membuat mereka tidak bisa berkembang serta dipandang sebelah mata.

Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober untuk mengenang perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

"Santri bisa menjadi apa saja, mulai dari ulama, ilmuwan, pendidik, pengusaha, hingga pemimpin bangsa. Selama terus belajar, bersungguh-sungguh, dan mengabdikan ilmunya bagi kemajuan Indonesia," kata Nasaruddin Umar.