NADIKABAR.COM — Sangat sedikit bagian dari planet kita yang benar-benar belum terjelajahi, dan sebagian besar berada di Kutub Selatan. Hampir seluruh Antartika beserta hamparan lautan luas di sekitarnya tertutup es ratusan, bahkan ribuan meter.

Perlahan tapi pasti, area terakhir yang belum diketahui di Bumi ini mulai menyingkap rahasianya. Berbekal teknologi baru, peneliti mengintip ke bawah lapisan es untuk mencari kehidupan tersembunyi.

Ketika bongkahan besar dari Beting Es George VI terlepas dari Antartika Januari 2025, ilmuwan memanfaatkan kesempatan langka ini untuk menjelajahi hamparan dasar laut yang tadinya tersembunyi es setebal 150 m.

Dengan mengirimkan kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh, mereka menemukan spons, laba-laba laut, anemon, dan gurita, ekosistem luar biasa kaya dan berkembang pesat meskipun terputus dari sinar Matahari berabad-abad.

Temuan semacam itu hanya permulaan. "Ada biosfer belum terjelajahi di bawah sana," kata Dr. John Priscu, profesor ekologi Montana State University yang dikutip NadiKabar dari BBC. Ia menjadi peneliti utama pada dua misi yang berhasil menembus danau-danau bawah es dan mengambil sampel kaya mikroba.

Banyak danau subglasial (di bawah es) Antartika terpisah dari atmosfer dan lautan selama ribuan tahun, beberapa bahkan berpotensi jutaan tahun. Bentuk kehidupannya berevolusi secara terisolasi dari bagian dunia lainnya dan mikroba-mikroba ini menemukan cara unik untuk bertahan dalam kondisi ekstrem jauh.

Namun, ilmuwan baru mengambil sampel sebagian kecil danau tersembunyi di Antartika. Diperkirakan ada lebih dari 700 danau di bawah lapisan es, masing-masing berpotensi menjadi dunia tersendiri.

Antartika sebenarnya adalah daratan raksasa dengan lapisan tebal air beku di atasnya. Tersembunyi di bawahnya adalah lanskap bervariasi termasuk pegunungan, lembah, bukit, dan dataran.

Para ilmuwan tidak mengetahui keberadaan danau tersembunyi sampai tahun 1970-an, ketika mereka mulai menggunakan radar udara untuk mengukur ketebalan lapisan es dan memetakan lanskap di bawahnya.

Di 1990-an, ilmuwan memiliki tambahan 'mata di langit' yang dapat diandalkan: satelit yang mulai melakukan pengukuran yang sangat akurat terhadap lapisan es.

Menggabungkan data satelit bersama pembacaan radar dan seismik, ilmuwan mempercepat penemuan danau-danau subglasial baru, termasuk danau terbesar Antartika, yakni Danau Vostok, pada tahun 1996.

Dengan luas permukaan 16.000 km2 dan kedalaman lebih dari 1.000 m di beberapa titik, Vostok adalah salah satu danau air tawar terbesar dunia meski tersembunyi di bawah 3.700 m es.

Peneliti Rusia adalah yang pertama menyelidiki Danau Vostok. Stasiun penelitian kutub Rusia dibangun tepat di atas danau tersebut tahun 1950-an, di mana ilmuwan telah mengebor lebih dari 3,5 km di bawah permukaan untuk mengambil sampel inti es.

Menggunakan lubang bor yang sudah ada, peneliti mengumpulkan sampel air danau yang membeku akhir 1990-an, sebelum mengambil sampel air danau itu sendiri di 2013. Apa yang mereka temukan menakjubkan sekaligus kontroversial.

Analisis mengungkap ada materi genetik dari lebih dari 3.500 spesies termasuk bakteri, makhluk laut akuatik, dan jamur. Banyak di antaranya secara genetik mirip dengan spesies di tempat lain di Bumi.

Namun, banyak peneliti meyakini hampir semua kehidupan ini terbawa masuk ke dalam es selama proses pengeboran. Sampel Rusia dari Danau Vostok mungkin terkontaminasi.

Januari 2013, proyek AS bernama WISSARD (Whillans Ice Stream Subglacial Access Research Drilling) berhasil menggunakan pengeboran untuk menembus es 800 m guna memasuki Danau Whillans di Antartika Barat.

Analisis genetik membuktikan mikroba yang ditemukan bukanlah hasil kontaminasi. Hasil awal menunjukkan beberapa dari mikroba tersebut mungkin mewakili garis keturunan yang tidak mirip dengan makhluk apa pun.

Tim tersebut baru-baru ini membuktikan bahwa apa yang mereka temukan benar-benar unik, bakteri dan virus pemakan bakteri yang terputus dari belahan Bumi lainnya dan berevolusi terpisah.

Mungkin yang paling luar biasa adalah, tidak seperti hampir seluruh ekosistem lain di Bumi, mereka sama sekali tidak bergantung pada sinar Matahari.

Banyak mikroba menghasilkan energi dengan mengekstraksinya dari bahan kimia, seperti hidrogen yang dilepaskan dari batuan yang hancur, serta metana, besi, dan belerang, proses yang disebut kemolitoautotrofi.

"Danau-danau ini adalah salah satu dari sedikit tempat, mungkin satu-satunya, di mana Anda dapat menemukan ekosistem yang benar-benar beroperasi terpisah dari energi fotosintesis," ungkap Dr. Trista Vick-Majors, asisten profesor ilmu biologi Michigan Technological University.