NADIKABAR.COM — Menteri luar negeri Amerika Serikat (AS), Jepang, Australia, dan India, Sabtu (31/10) menyampaikan keprihatinan serius terhadap pemberlakuan pembatasan perdagangan dan kebijakan lain oleh China yang dinilai sebagai bentuk tekanan ekonomi, meskipun tidak menyebut negara tersebut secara langsung.

Dalam pertemuan kelompok yang dikenal sebagai Quad di Atlanta, Menlu Jepang Toshimitsu Motegi bersama para mitra dari tiga negara lainnya juga berkomitmen memberikan bantuan teknis dan keuangan lebih dari 85 juta dolar AS (sekitar Rp1,54 triliun) untuk meningkatkan akses terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) tepercaya di kawasan Indo-Pasifik.

Motegi, Menlu AS Marco Rubio, Menlu Australia Penny Wong, dan Menlu India Subrahmanyam Jaishankar mengevaluasi kemajuan berbagai inisiatif Quad yang sedang berjalan di sela-sela pertemuan para menteri luar negeri negara-negara anggota G20.

Dalam dokumen bersama yang diterbitkan setelah pertemuan tersebut, keempat menteri menyatakan keprihatinan serius terhadap praktik tekanan ekonomi, termasuk pembatasan ekspor secara sepihak, serta kebijakan dan praktik nonpasar yang menyebabkan kelebihan kapasitas produksi dan mengganggu rantai pasok global di industri-industri strategis.

Pertemuan tersebut menjadi yang ketiga bagi para menteri luar negeri negara anggota Quad sepanjang tahun ini, menjelang kemungkinan penyelenggaraan KTT Quad bulan depan di Filipina.

Para pemimpin Jepang, AS, Australia, dan India dijadwalkan mengunjungi Manila pada pertengahan November untuk menghadiri sejumlah pertemuan yang melibatkan ASEAN dan negara-negara mitranya.

KTT Quad terakhir digelar pada September 2024, ketika Joe Biden masih menjabat sebagai Presiden AS sebelum digantikan Donald Trump.

Kelompok empat negara tersebut sempat berencana menggelar pertemuan tingkat pemimpin di India pada tahun lalu, tetapi rencana itu tidak terlaksana akibat hubungan New Delhi dan Washington memburuk.

Quad kerap dipandang sebagai kekuatan penyeimbang terhadap meningkatnya pengaruh China di kawasan Indo-Pasifik.

Meski bidang kerja sama Quad terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari keamanan maritim dan mineral kritis hingga perlindungan kesehatan dan teknologi baru, China mengkritik inisiatif kelompok tersebut karena dinilai membendung pengaruhnya di kawasan.

Dalam pertemuan pada Sabtu, para menteri luar negeri juga menyelaraskan pandangan tentang situasi di kawasan Indo-Pasifik, termasuk perkembangan di Laut China Selatan dan Laut China Timur, serta kondisi di Timur Tengah, menurut Kementerian Luar Negeri Jepang.

Dalam pertemuan tersebut, Motegi menyampaikan penolakan keras terhadap segala upaya mengubah status quo secara sepihak melalui penggunaan kekuatan atau intimidasi, kata kementerian tersebut.

Sementara itu, Rubio menegaskan bahwa Quad tidak dibentuk untuk menentang negara mana pun.

"Jika kami menyampaikan kekhawatiran dalam forum Quad, hal itu berkaitan dengan perilaku dan aktivitas tertentu. Saat ini, aktivitas atau perilaku tersebut berulang kali dilakukan oleh satu negara," kata Rubio dalam konferensi pers.

"Hal itu tentu dapat dilihat oleh semua pihak. Namun, Quad bukan aliansi yang dibentuk untuk menentang China ataupun negara mana pun," ujarnya.

Menurut dokumen bersama tersebut, untuk memperkuat diplomasi perdagangan, para menteri luar negeri sepakat membentuk forum bisnis bersama yang akan mempertemukan para pemimpin industri, pejabat pemerintah, dan pakar kebijakan dari keempat negara.

Forum tersebut bertujuan mempererat hubungan antara sektor publik dan swasta.

Sebagai bagian dari inisiatif itu, lembaga penjamin kredit ekspor negara-negara Quad dijadwalkan bertemu di Tokyo pada 18 November untuk mengidentifikasi peluang memperdalam kerja sama ekonomi.

Berbeda dengan kesatuan sikap yang ditunjukkan Quad, pertemuan G20 selama dua hari justru memperlihatkan perbedaan pandangan di antara negara-negara anggotanya.

Salah satu pemicunya adalah kehadiran Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov yang menuai protes dari sejumlah pejabat Eropa.

Akibatnya, perwakilan negara-negara dengan perekonomian utama dunia, termasuk China dan Rusia, gagal menerbitkan komunike bersama setelah membahas berbagai isu, seperti keamanan energi, rantai pasok global, dan ketegangan geopolitik.

"Saya tidak ingin memberi kesan bahwa saat ini kita sudah hampir mencapai solusi yang dapat diterima semua pihak atas berbagai persoalan tersebut," kata Rubio yang memimpin pertemuan itu.

Pertemuan tersebut merupakan bagian dari persiapan menuju KTT G20 tahun ini yang akan diselenggarakan oleh Trump di Miami pada Desember mendatang.

Sebagai gantinya, Rubio menerbitkan pernyataan ketua pertemuan (chairman's statement), meskipun dokumen tersebut dinilai tidak memuat banyak substansi.Sumber: Kyodo-OANA