Data tersebut menunjukkan pentingnya kesiapan petugas dalam memberikan pelayanan berbasis kebutuhan.
"Kita tidak bisa lagi melihat pelayanan haji secara umum. Harus ada pendekatan spesifik berbasis kebutuhan jemaah, terutama bagi lansia dan disabilitas yang memerlukan pendampingan lebih intensif," jelasnya.
Keselamatan merupakan prinsip utama ketika memberikan pelayanan kepada jemaah lansia.
Petugas harus memperhatikan kondisi jemaah ketika berpindah tempat, menaiki atau menuruni tangga, menggunakan bus, berjalan menuju masjid, maupun ketika berada di kawasan yang padat.
Jemaah lansia juga perlu diingatkan agar tidak memaksakan diri ketika kondisi fisiknya sedang tidak memungkinkan.
Apabila jemaah mengalami keluhan seperti pusing, lemas, sesak, kelelahan berat, atau kondisi lain yang mengkhawatirkan, petugas harus segera melakukan koordinasi dengan petugas kesehatan sesuai prosedur.
Komunikasi menjadi salah satu kemampuan penting dalam pelayanan lansia.
Petugas sebaiknya menyampaikan informasi dengan bahasa yang sederhana, jelas, sopan, dan mudah dipahami. Instruksi juga dapat diberikan secara perlahan dan diulang apabila jemaah belum memahami informasi.
Hindari menyampaikan terlalu banyak informasi sekaligus. Petugas dapat menjelaskan instruksi secara bertahap, misalnya lokasi berkumpul terlebih dahulu, kemudian waktu dan rute perjalanan.
Jemaah lansia yang tersesat atau terpisah dari rombongan merupakan salah satu situasi yang harus diantisipasi calon petugas.
Ketika menemukan jemaah lansia yang kebingungan, langkah pertama adalah menenangkan jemaah. Jangan membuat mereka semakin panik dengan pertanyaan atau instruksi yang terlalu banyak.
Petugas kemudian dapat memeriksa identitas jemaah, kartu identitas, gelang, tanda pengenal, atau informasi lain yang dapat membantu mengetahui kloter dan rombongannya.