Setelah identitas diketahui, petugas dapat melakukan koordinasi untuk mengantar jemaah kembali kepada rombongan atau menuju akomodasinya.
Setiap jemaah memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, petugas harus mampu mengenali kebutuhan tersebut dan menyesuaikan bentuk pendampingannya.
Pemerintah berkomitmen menghadirkan pelayanan haji inklusif melalui penguatan kebijakan, peningkatan kapasitas petugas, serta penyediaan fasilitas yang lebih ramah bagi jemaah berkebutuhan khusus.
Calon petugas juga perlu memahami pentingnya data kondisi jemaah.
Salah satu strategi penguatan pelayanan haji adalah integrasi data kesehatan, istitha'ah, serta kondisi lansia dan disabilitas sejak tahap awal verifikasi.
Dengan data yang lebih baik, kondisi jemaah dapat dipantau dan kebutuhan pendampingan dapat dipetakan sejak awal.
Pelayanan ramah lansia tidak hanya bergantung pada petugas. Fasilitas yang mendukung mobilitas dan aksesibilitas juga menjadi bagian penting.
Beberapa strategi yang disiapkan pemerintah tim redaksi lain:
- Penyediaan kursi roda.- Penyediaan jalur prioritas.- Penguatan sistem pendataan dan monitoring.- Peningkatan fasilitas aksesibilitas.- Koordinasi dengan otoritas Arab Saudi terkait kebutuhan jemaah berkebutuhan khusus.
Calon petugas perlu mengetahui keberadaan fasilitas tersebut agar dapat mengarahkan jemaah ketika membutuhkan bantuan.
Pelayanan terhadap jemaah lansia tidak berhenti ketika mereka tiba di Tanah Suci.
Pendampingan dilakukan secara menyeluruh mulai dari kedatangan, akomodasi, mobilitas untuk beribadah, hingga proses pemulangan.