NADIKABAR.COM — Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Pahlawan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, mengeluhkan soal pungutan parkir kepada pembeli. Pedagang menyebut omzet mereka anjlok karena pembeli jadi ogah mampir jajan.

Hal itu disampaikan penjual cimol di Jalan Pahlawan, Ratin (37). Ia mengatakan, banyak pedagang di Jalan Pahlawan dan sekitarnya yang mengeluhkan pungutan parkir kepada pengunjung meski hanya berhenti sebentar untuk membungkus jajanan.

"Pedagang pada mengeluhkan soal masalah parkir yang selalu meminta jasa parkir kepada pembeli yang cuma parkir di depan gerobak penjual," kata Ratih saat dihubungi NadiKabar, Kamis (3/9/2026).

Ia menyebut, banyak pembeli di lapaknya yang hanya membeli sedikit cimol dan dibungkus, tapi tetap dimintai parkir. Para pedagang pun tak berani menegur para juru parkir setempat, meski hal itu mengakibatkan adanya penurunan penjualan.

"Pembeli belinya tidak seberapa, dimintai uang parkir, padahal parkirnya cuma di depan gerobak. Pernah ada pembeli yang komplain sama saya, kalau beli jajan kok dimintai parkir, padahal dulu tidak begitu," ucapnya.

"Tapi pedagang mau menegur tukang parkir juga nggak enak. Padahal di tempat saya jualan, harga pedagang di bawah Rp 10 ribu. Kadang orang beli cuma Rp 5 ribu," lanjutnya.

Menurutnya, juru parkir sudah memiliki wilayah sendiri yang boleh ditarik biaya parkir. Namun, seiring berjalannya waktu, para juru parkir mulai meluas ke area yang seharusnya steril dari parkir.

"Belakangan tempat pedagang kaki lima yang pakai gerobak juga dimintai parkir, termasuk pembelinya. Sudah sekitar tiga tahunan kayak gitu," ungkapnya.

Ratih yang sudah berjualan di sekitar Jalan Pahlawan selama lima tahun itu berharap agar juru parkir bisa lebih ditertibkan, dan tak menarik biaya parkir kepada pembeli yang tidak makan di tempat.

"Tolong pembeli pedagang kecil jangan dimintai parkir. Kan orang jajan itu belinya tidak seberapa, masih dimintai parkir Rp 2 ribu. Di tempat saya turun penjualannya sampai Rp 70 persen," pintanya.