Hal senada disampaikan pedagang sempol di sekitar Jalan Pahlawan, E (41). E yang berjualan di Jalan Imam Barjo itu juga mengaku mengalami penurunan penjualan yang cukup signifikan.
"Di tempat saya menurun hampir 50 persen. Dulu kita jualan dapat Rp 400 ribu, minimal Rp 300 ribu, sekarang paling cuma Rp 150 ribu, Rp 200 ribu sudah top. Mungkin gara-gara pengunjungnya malas harus bayar parkir," kata Erwin saat dihubungi NadiKabar.
Ia pun mengaku kurang setuju dengan adanya parkir di Jalan Pahlawan dan area Pleburan, karena kebanyakan pembeli tak makan di lokasi, sehingga langsung pulang usai membungkus jajanan.
"Kalau saya di Imam Barjo memang sudah lama ada parkirnya. Kalau yang di Pahlawan itu baru setahun mungkin. Kalau di Imam Barjo boleh, yang di Pahlawan harusnya steril," jelasnya.
Menurutnya, juru parkir di sekitar lapaknya kerap memaksa pembeli membayar parkir meski tak turun dari motor. Hal ini pun meresahkan PKL yang mulai kekurangan pengunjung.
"Parkirnya Rp 2 ribu kalau (motornya) diduduki, kalau yang motornya ditinggal Rp 3 ribu. Pembeli juga ada yang komplain ke saya, kasih uang Rp 5 ribu nggak diberikan kembalian," ucapnya.
Bahkan, sejak Desember 2025, para PKL juga dimintai parkir tiap harinya, yang membuat pendapatan mereka semakin berkurang.
"Pedagang diminta iuran parkir Rp 15 ribu. Dulu-dulu nggak pernah, cuma menarik pengunjung. Sekarang kita yang berdagang dimintai, dengan alasan kita berdagang di tempat parkir," tuturnya.
Ia pun menyebut, sekitar 30-an pedagang yang tergabung dalam paguyuban akan mengusulkan adanya iuran untuk PAD, dengan syarat parkir ditiadakan. Menurutnya, hal itu menjadi solusi bagi para pedagang dan pembeli.