Kemudian, negara lain, yakni Amerika Serikat yang menggunakan konsep NCB untuk menangani kasus Kartel Medellin, organisasi penyelundup narkoba milik Pablo Escobar pada era 90-an. Meski Escobar telah dipidana, keluarga dan relasinya saat itu masih menikmati hasil dari narkotika.

Dalam prosesnya, kata Narendra, penyidik di Miami menyalahgunakan NCB menjadi alat pemerasan. Melalui kasus ini, Amerika Serikat memutuskan mengubah pendekatan NCB.

"NCB dilakukan setelah penyidik menyerahkan bukti permulaan kepada jaksa untuk memperoleh prima facie (cek) dari pengadilan. Jadi pelaksanaan NCB di Amerika Serikat tidak bisa langsung dilakukan oleh penyidik, melainkan harus melalui jaksa yang mengajukan prima facie untuk mendapatkan penetapan pengadilan," kata Narendra.

Kemudian, di Australia, penerapan NCB awalnya dipicu oleh kasus kelompok geng motor yang mempunyai aset tidak berimbang (unexplained wealth). Namun, dalam perkembangannya NCB di Australia menjadi ajang pemerasan penyidik sehingga Australia mengubah pendekatannya.

"NCB dijadikan sebagai komplementer dari kasus-kasus pidana. NCB dikenakan jika saat persidangan ditemukan bahwa ada aset-aset baru yang tidak terlacak pada saat penyidikan, maka diberlakukanlah NCB. Jadi NCB dilakukan setelah ada perkaranya pidana, itu yang di Australia," jelas Narendra.

Sementara itu, di Belanda justru menolak penerapan konsep NCB karena dianggap berpotensi memicu kesewenang-wenangan. Belanda menganut pendekatan bahwa perampasan aset harus melalui mekanisme pidana. Untuk itu, Belanda menciptakan penyidikan finansial yang dilakukan oleh jaksa dan timnya.