Tiap bulannya, Suwarno mendapat pensiunan Rp 900 ribu. Tiap bulan ia juga harus memutar otak mengatur uang tersebut agar kebutuhannya tercukupi.

"Listriknya alhamdulillah saya dapat diskon. Jadi hanya Rp 30.000. Kemudian yang airnya ini tidak saya pakai, hanya abonemen, tapi Rp 68.000," papar Suwarno.

Dengan kondisinya sekarang, kerusakan di rumahnya pun terpaksa Suwarno acuhkan. Motor juga ia tak punya, saat masih aktif Suwarno mengandalkan bus kampus saat masih bekerja.

"Ini (rumah) warisan Bapak. Dari Mbah, ke Bapak, ke saya. Generasi ketiga," ungkap Suwarno.

"(Setelah tahu masuk desil 10) Wah berarti saya kaya dong. Harusnya saya punya mobil, punya motor, punya segalanya. Tapi faktanya kan tidak," pungkasnya.