NADIKABAR.COM — Nasib nahas dialami seorang pria lanjut usia (lansia) difabel di Jetis, Kota Jogja, Suwarno (70), setelah dicoret dari program bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH). Ironisnya lagi, ia kini terdaftar sebagai warga kelompok desil 10.

Suwarno menceritakan, bantuan PKH selalu ia dan almarhum ibunya terima sejak lama. Hingga sang ibu meninggal pada 2019 silam, Suwarno pun mengurus bantuan PKH atas namanya sendiri.

"Terus terang, waktu ibu saya dulu yang masuk ke PKH itu, nggak ada desil-desil itu. Ya pokoknya asal tiap-tiap 3 bulan sekali katakanlah PKH-nya turun, ya kita cek di bank. Yang 3 bulan cuma Rp 600.000, artinya kan 1 bulan Rp 200.000," ungkap Suwarno saat ditemui di kediamannya, Jumat (28/8/2026).

Hingga pada tahun 2025, Suwarno berhasil mendapatkan PKH. Namun, hanya bertahan dalam sekali pencairan saja. Setelahnya, PKH-nya tiba-tiba berhenti tanpa ia ketahui pasti penyebabnya hingga kini.

"Ibu 2019 itu sudah meninggal, kemudian tidak otomatis saya menggantikan Ibu, nggak. Saya harus berjuang sendiri, mengajukan sendiri, sampai 2025 itu saya dapat. 2025 bulan Januari sampai Maret, dan Aprilnya itu sudah langsung di-cut, nggak tahu alasannya. Pendamping juga ditanyakan nggak bisa jawab," ujarnya.

Suwarno pun baru berani menanyakan ke kelurahan perihal PKH-nya yang berhenti belum lama ini. Namun alasan yang ia diterima malah membuatnya semakin terkejut. Suwarno tercatat sebagai warga desil 10.

"Itu saya tahu (masuk desil 10), saya istilahnya itu ngurus, mau cari tahu ini di kelurahan. Kelurahan nggak bisa jawab. Ini yang bisa jawab kecamatan katanya gitu. Kemudian kita ke kecamatan, kecamatan juga nggak bisa jawab," paparnya.

"2 minggu itu terakhir kita ke sana. Katanya gitu (masuk desil 10), tapi saya nggak lihat ya, nggak lihat komputernya. Katanya petugas gitu. Saya sendiri aja yang kena itu tidak tahu. Desil itu dasarnya apa? Dan desil itu mulai dari mana? Ya jelaslah (mempertanyakan),"imbuh Suwarno.

Selepas sang ibu meninggal dunia, Suwarno hidup seorang diri di rumah warisan yang terletak di dalam gang sempit selebar semeter. Istrinya meninggal pada tahun 2010, sedangkan dua anaknya kini telah berkeluarga.

"Putra sudah mentas semua. (Anak) cuma dua, Mas. Ditinggal istri 2010 meninggal. Tinggal anak dua itu, pensiun tahun 2011. Berarti 2010 pensiun istri, 2011 pensiun pegawai. Iya (sekarang tinggal sendiri)," ujarnya.

Suwarno adalah seorang pensiunan petugas perpustakaan di salah satu kampus swasta di Jogja dan telah bekerja 25 tahun lamanya. Beruntung ia masih mendapat uang pensiunan dari kampus sejak purna tugas 2015 silam.

Tiap bulannya, Suwarno mendapat pensiunan Rp 900 ribu. Tiap bulan ia juga harus memutar otak mengatur uang tersebut agar kebutuhannya tercukupi.

"Listriknya alhamdulillah saya dapat diskon. Jadi hanya Rp 30.000. Kemudian yang airnya ini tidak saya pakai, hanya abonemen, tapi Rp 68.000," papar Suwarno.

Dengan kondisinya sekarang, kerusakan di rumahnya pun terpaksa Suwarno acuhkan. Motor juga ia tak punya, saat masih aktif Suwarno mengandalkan bus kampus saat masih bekerja.

"Ini (rumah) warisan Bapak. Dari Mbah, ke Bapak, ke saya. Generasi ketiga," ungkap Suwarno.

"(Setelah tahu masuk desil 10) Wah berarti saya kaya dong. Harusnya saya punya mobil, punya motor, punya segalanya. Tapi faktanya kan tidak," pungkasnya.