NADIKABAR.COM — Menjelang aba-aba start, Peter Filologus Valentino Rossi memastikan posisi tubuh dan kaki Taufik Abdul Karim sudah tepat.
Keduanya harus mengatur jarak, menyesuaikan irama gerakan, serta memastikan tidak saling mengganggu ketika mulai berlari.
Satu hal penting yang tidak boleh terabaikan adalah langkah kaki mereka harus selaras agar tidak berbenturan. Saat salah satu kaki melangkah maju, pasangannya harus secara cermat menyesuaikan.
Ibarat sepasang sepatu, kaki kanan dan kiri memang berbeda, tetapi saling melengkapi untuk melangkah ke depan.
Begitulah cara Taufik dan Peter berjuang bersama dalam perlombaan para-atletik pada Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 di Jepang.
Bagi keduanya, berlari bukan sekadar mengandalkan kecepatan. Ada gerakan yang harus diselaraskan, komunikasi yang harus dijaga, serta kepercayaan yang tidak boleh terputus hingga mencapai garis finis.
Peter bertugas sebagai pemandu atau guide runner bagi Taufik, pelari tunanetra Indonesia yang turun pada nomor 100 meter dan 400 meter klasifikasi T11.
Dalam perlombaan, keduanya berlari berdampingan dengan tangan yang terhubung menggunakan tali khusus. Peter membantu memberikan informasi mengenai arah lintasan dan waktu yang tepat bagi Taufik untuk meningkatkan kecepatan.
Namun, tugas itu tidak sesederhana menunjukkan jalan.
"Kalau koordinasi, penyesuaian tangan kaki kan beda. Ayunan tangan, postur badan, itu memengaruhi. Tapi lama-kelamaan latihan, chemistry dapat," kata Peter saat ditemui di Nagoya, Kamis (22/10).
Peter menjelaskan bahwa seorang pemandu harus menyesuaikan diri dengan karakteristik atlet yang didampinginya, mulai dari panjang langkah, posisi tubuh, hingga kemampuan berlari.
Bahkan, ketika keduanya sudah melesat meninggalkan garis start, komunikasi tidak boleh terhenti.
Pada nomor 100 meter, Peter harus memberikan arahan dalam waktu belasan detik. Sementara ketika mendampingi Taufik pada nomor 400 meter, ia juga harus memberikan informasi mengenai tikungan serta perubahan kecepatan.
"Paling cuma ngomong nambah sama mau finish itu, tambahin, sudah. Gitu aja," ujarnya.
Untuk menjalankan tugas tersebut, Peter membutuhkan kemampuan fisik yang mumpuni. Selain harus mampu mengimbangi kecepatan Taufik, ia juga harus menjaga pernapasan dan konsentrasi untuk memberikan arahan.
Karena itu, ia menjalani latihan tambahan di luar program reguler bersama atlet yang didampinginya.
Kecepatan bukanlah segalanya bagi seorang pemandu. Sekuat apa pun kemampuannya berlari, Peter tidak boleh meninggalkan Taufik.
Ia harus terus berada di sampingnya, menyelaraskan langkah, dan memastikan Taufik tetap menjadi pelaku utama dalam perlombaan.
Kebersamaan yang baru berlangsung sekitar tiga bulan itu mengantarkan Taufik meraih medali perak nomor 100 meter T11.
Taufik mencatatkan waktu 11,48 detik pada final, hanya terpaut 0,01 detik dari pelari Irak Mohammed Ayade yang merebut emas dengan 11,47 detik.
Padahal, pada babak penyisihan, Taufik tampil lebih cepat dengan waktu 11,30 detik yang tercatat sebagai rekor perlombaan.
Taufik mengaku sempat optimistis dapat meraih emas. Namun, cedera lama pada kakinya kembali terasa setelah babak penyisihan sehingga penampilannya di final tidak maksimal.
"Habis babak penyisihan ternyata kaki saya bermasalah," katanya.
Meski hasil akhir tidak sepenuhnya sesuai harapan, perjalanan itu tetap menjadi pengalaman berharga bagi Taufik dan Peter yang baru dipasangkan menjelang pesta olahraga disabilitas terbesar di Asia tersebut.