Ia menyebut, aksi hari ini juga menjadi solidaritas bagi rakyat Aceh, Flores, Papua, dan Kalimantan, Sumatra, dan seluruh wilayah yang hari ini tengah terdampak bencana.
"Karena kita sebagai sesama saudara sebangsa yang tertindas. Kita sudah pernah menyampaikan aksi ini, aspirasi 'Pantura' ini di depan gedung DPRD. Namun tidak pernah ada respons. Kami tidak menemukan fungsi nyata DPR sebagai wakil aspirasi kita," ucapnya.
"Maka dari itu kita ingin kembali untuk melebur dengan masyarakat, bahwa kita masih bersama mereka. Kemudian akhirnya terdengar di telinga yang tuli, telinga pemerintah, dan sampai ke telinga pemerintah pusat," lanjutnya.
Perwakilan massa aksi dari BEM Undip lainnya, Rangga mengatakan, aksi ini menjadi pertama kalinya mahasiswa berdemonstrasi di Tugu Muda. Menurutnya, Tugu Muda dipilih juga karena memiliki nilai historis dalam momen Pertempuran Lima Hari di Semarang.
"Mengapa aksi di Tugu Muda? Karena Tugu Muda ini memiliki nilai historis. Sejarah perjuangan pemuda dan masyarakat Semarang pada Oktober 1945 yaitu Lima Hari Pertempuran di Semarang," ucapnya.
"Mengapa kita tidak demo lagi di depan kantor DPRD maupun kantor gubernur? Karena sampai hari ini poin-poin aksi tidak didengar oleh pemerintah maupun digubris oleh pemerintah," tuturnya.
"Oleh karena itu, BEM Sera melakukan gebrakan dengan aksi di Tugu Muda. Selain mahasiswa UI yang aksi di Bundaran HI namun dihalang, kita rasakan juga sekarang BEM Sera juga dihalang gitu oleh aparat," lanjutnya.