"Gabungan efek kekeringan dan kabut asap dapat terus memengaruhi produksi minyak kelapa sawit bahkan setelah kondisi lingkungan kembali normal," kata Prasetyo.

Kumbang penyerbuk sawit dibawa dari Afrika ke Malaysia pada awal 1980-an untuk menggantikan praktik penyerbukan manual yang mahal dan butuh banyak tenaga kerja. Serangga ini kemudian diperkenalkan ke Indonesia dan sejak saat itu memegang peran penting dalam industri perkebunan sawit.

Ancaman penurunan aktivitas penyerbukan akibat ekosistem serangga yang terganggu semakin memperburuk kondisi pasokan minyak kelapa sawit di pasar global yang sebelumnya telah memburuk akibat hasil panen yang stagnan dan pohon-pohon menua.

Selain itu, Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia juga telah mengalokasikan lebih banyak minyaknya untuk keperluan bahan bakar nabati (biofuel), sehingga memperketat pasokan untuk konsumsi pangan dan penggunaan lainnya.