NADIKABAR.COM — Kabut asap imbas kebakaran hutan di Indonesia mengancam ekosistem serangga yang menyerbuki pohon kelapa sawit. Kondisi ini berpotensi mengganggu pasokan kelapa sawit sebagai sumber minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi di dunia.
Sebaran asap imbas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah menyebar jauh hingga sebagian wilayah Asia Tenggara. Di beberapa daerah, asapnya bahkan terlalu tebal sampai menutupi cahaya Matahari.
Menurut Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), asap tebal dan berkurangnya sinar Matahari akibat kebakaran dapat mengganggu kehidupan banyak spesies, termasuk kumbang penyerbuk yang membawa serbuk sari dari bunga jantan ke bunga betina kelapa sawit.
Kondisi ini dinilai mampu mengakibatkan penurunan bunga yang tumbuh jadi kelapa sawit hingga 20 persen dan secara tidak langsung akan mengurangi hasil panen kelapa sawit dan mengancam pasokan minyak.
Melansir The Straits Times, Departemen Pertanian AS memperkirakan stok minyak sawit akan turun signifikan ke level terendah dalam sembilan tahun pada musim 2026-2027.
Penelitian terhadap pengaruh kabut asap terhadap kemampuan kumbang penyerbuk melakukan penyerbukan secara efektif pernah diteliti pada kebakaran hutan tahun 2015 oleh Agus Eko Prasetyo, seorang peneliti perlindungan tanaman di IOPRI.
"Suatu perkebunan mungkin masih memiliki populasi kumbang penyerbuk yang memadai, tetapi efisiensi penyerbukan dapat menurun jika serangga tersebut menjadi kurang aktif dalam berpindah antar bunga," kata Prasetyo.
Namun, dampak kabut asap tahun ini belum dapat diukur karena tandan buah sawit membutuhkan waktu lima hingga enam bulan untuk matang setelah penyerbukan. Dampaknya baru akan terlihat pada musim panen sekitar bulan Maret atau April 2027.
Para peneliti di Malaysian Palm Oil Board (MPOB) juga mengungkapkan hal serupa, gangguan penyerbukan dapat menyebabkan buah berkembang tanpa biji, sehingga menghasilkan tandan yang lebih ringan, atau bahkan menyebabkan gagal panen.
Mereka menilai bahwa berkurangnya minyak yang diekstraksi bisa berisiko menyebabkan kerugian pendapatan hingga jutaan dolar.
"Gabungan efek kekeringan dan kabut asap dapat terus memengaruhi produksi minyak kelapa sawit bahkan setelah kondisi lingkungan kembali normal," kata Prasetyo.
Kumbang penyerbuk sawit dibawa dari Afrika ke Malaysia pada awal 1980-an untuk menggantikan praktik penyerbukan manual yang mahal dan butuh banyak tenaga kerja. Serangga ini kemudian diperkenalkan ke Indonesia dan sejak saat itu memegang peran penting dalam industri perkebunan sawit.
Ancaman penurunan aktivitas penyerbukan akibat ekosistem serangga yang terganggu semakin memperburuk kondisi pasokan minyak kelapa sawit di pasar global yang sebelumnya telah memburuk akibat hasil panen yang stagnan dan pohon-pohon menua.
Selain itu, Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia juga telah mengalokasikan lebih banyak minyaknya untuk keperluan bahan bakar nabati (biofuel), sehingga memperketat pasokan untuk konsumsi pangan dan penggunaan lainnya.